Sastra

ANAKKU SEMANGATKU

Penulis : Dila Puspita Sari

Reza adalah bapak satu anak yang bekerja di sebuah perusahaan. Istri Reza meninggal saat melahirkan anaknya yang di beri nama Dirgo. Sejak bayi Dirgo di titipkan kepada kakak ipar Reza yaitu kakak kandung dari isterinya yang bernama Rini. Rini juga mempunyai anak dan suami. Rini mengurus Dirgo saat Reza bekerja sambil mengurus anaknya yang umurnya sama dengan Dirgo.

Waktu terus berjalan dan kondisi hidup Reza dalam kesendirian sambil membesarkan anak laki-laki satu-satunya itu. Tak terasa 7 tahun sudah berlalu, sekarang saatnya Dirgo masuk Sekolah Dasar. Dirgo di masukkan ke Sekolah Dasar Negeri dekat rumahnya. Dan tak jauh juga dari rumah Rini agar mudah antar dan jemput anak-anak. Selain itu Boni anak Rini juga masuk kesekolah yang sama.      

Malam setelah pulang kerja Reza ngobrol dengan Dirgo sebelum tidur.
"Dirgo kamu harus rajin belajar jangan banyak main lg karena bulan depan kamu sudah masuk SD." Ucap Reza
"Asik aku sekolah! Aku satu  sekolah ya sama Abang Boni?" Tanya Dirgo
"Iya, biar bibi Rini bisa gampang pantau  kamu dan bang Boni." Ucap Reza
"Ok, terus kapan beli tas dan sepatunya?" Tanya Dirgo
"Nanti ya tunggu bapak gajian." Jawab Reza sambil memeluk anak kesayangnnya itu.

Setiap sebelum berangkat kerja Reza mengantarkan Dirgo kerumah Rini yang tak jauh dari rumah kontrakannya.
"Dirgo, Bapak kerja dulu ya, kamu jangan  nakal sama bibi." Pesan Reza pada Dirgo.
"Dia tak nakal kok asal  kau  kasih uang  jajan, biar ga berantem  terus sama Boni." Rini bermaksud menyinggung Reza agar memberinya uang untuk belanja dan kebutuhan  makan Dirgo.
"Ini po ada sedikit buat tambahan dapur." Reza berkata sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam uang sekitar Lima Puluh Ribu Rupiah.
"Iye, makasih." Ungkap Rini sambil mengambil uang itu.

Setiap bulan setelah gajian Reza selalu memberi uang bulanan untuk Rini sebagai upah mau  mengurus Dirgo dan uang belanja untuk  makan Dirgo. Namun Rini sering sekali meminta uang tambahan di luar uang bulanan itu. Dengan alasan uang bulanan yang diberikan Reza tidak cukup untuk satu bulan padahal uang yang diberi Reza setiap bulan lebih dari cukup. Namun Reza tidak pernah mempermasalahkan sikap Rini kakak  iparnya itu. Justru Reza beruntung Rini masih mau  membantu merawat Dirgo.

Reza bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan di daerah  Jakarta. Reza adalah seorang pekerja keras. Bahkan dulu saat Reza belum mendapatkan pekerjaan dia rela melakukan pekerjaan apapun. Dia pernah menjadi buruh di sebuah bagunan proyek dan dia juga pernah jadi kuli angkut barang di pabrik. Reza bersyukur sekarang kerjanya tidak sekeras dulu. Dan meski Reza seorang lulusan sarjana rasanya mencari pekerjaan di Jakarta ini tidaklah  mudah.

Di tempat Reza sekarang bekerja manager salesnya adalah perempuan keturunan Batak. Reza biasa memamggilnya ibu Merlin atau ibu Mer. Ibu Mer ini belum menikah meski usianya sudah sangat matang. Suatu pagi dikantor Reza ngobrol dengan teman-temannya saat ibu Mer belum datang.
"Eh lu tau ga ibu Mer itu perawan tua?" Kata Budi salah seorang teman Reza.
"Masa sih padahal dia cantik, kok belum kawin juga." Reza menjawab.
"Ibu Mer itu terlalu galak, judes, jutek jadi mana ada yang mau sama dia." Sahut Sunu teman Reza yang lainnya.
"Hahahhahaaaa" semua yang ikut ngobrol disitu tertawa.

“Nah Reza kan Duda, mau kau sama dia?” Tanya Budi.

“Nggak lah!” Jawab Reza

Tujuh tahun menjadi duda Reza belum pernah berfikir mencari istri lagi. Reza trauma karena pernah merasakan kehilangan seseorang yang dicintainya. Oleh karena itu dia takut untuk bisa mencintai seorang wanita lagi. Padahal paras Reza cukup tampan dan tak sulit untuk mendapatkan seorang wanita. Karena sampai saat ini yang prioritasnya adalah Dirgo anak satu-satunya. Dia selalu berusaham menjadi bapak yang baik untuk Dirgo. Dirgo pun sangat mencintai bapaknya. Bagi Dirgo bapaknya adalah pahlawannya yang sangat dia banggakan.

Suatu hari saat pulang kantor Reza menjemput Dirgo di rumah Rini. Reza mendengar Dirgo menangis ketika sampai di depan rumah Rini. Reza kaget lalu segera masuk ke rumah Rini.
"Dirgo kenapa nangis?" Tanya Reza.
"Berantem  terus sama Boni heran  nggak ada yang mau ngalah, tuh liat Boni juga nangis." Jawab Rini.
"Dirgo kamu jangan nakal ya, ingat kamu itu udah di urusin sama Bibi jadi jangan nakal nurut sama bibi." Reza menasihati Dirgo
"Udahlah namanya juga anak-anak nggak usah diributin, itu kan biasa." Sahut Agus suami Rini yang baru masuk rumah juga setelah pulang kerja.
"Iya bang." Jawab Reza.
"Lu ga mau apa kasih ibu buat Dirgo, kasihan Dirgo dia butuh perhatian kasih sayang." Kata Agus.
"Ga tau bang, rasanya gue sedih kalo inget bini gue dulu berjuang ngelahirin Dirgo." Jawab Reza.
"Lu harus ikhlasin, udah 7 tahun berlalu, lu harus membuka lembaran baru. Sebenernya gue kasihan sm lu, semua lu lakuin sendiri.” Agus berusaha menasihati Reza agar hidup Reza lebih bahagia dengan adanya pendamping dan ibu buat Dirgo.
"Iya bang, entar gue pikirin lagi, udah malem gue pulang dulu." Jawab Reza.

Semenjak perbincangan malam itu dengan Agus, Reza mulai berfikir kalau pendamping itu bukan hanya untuknya tapi untuk kebaikan Dirgo juga. Reza bertekad akan mencoba membuka hati dan mencari pendamping hidup lagi. Tentunya yang bisa menerima keberadaan Dirgo dan bisa menyayangi Dirgo.

Tiba saatnya Gajian. Dan saat libur kerja Reza dan Dirgo pergi ke sebuah pasar untuk mencari sepatu, tas dan seragam merah putih untuk sekolah Dirgo. Dirgo sangat senang sekali sebentar lagi akan mulai masuk Sekolah SD. Dirgo dan bapaknya berkeliling pasar, dan Dirgo sangat senang sekali karena bisa membeli sepatu dan tas baru. Setelah semua yang dicari sudah dibeli Reza dan Dirgo makan bakso di dekat pasar itu.
"Dirgo mau makan bakso nggak?" Tanya Reza.
"Mau-mau!" Dirgo sambil mengangguk dengan ekspresi senang.
Mereka lalu duduk dan memesan bakso. Sambil makan bapak dan anak itu bercerita. Tiba-tiba Dirgo bicara sesuatu yang membuatnya sedih.
"Pak, andai aja ada ibu." Dengan ekspresi lirih Dirgo bicara.
"Kenapa?" Tanya Reza.
"Aku pengen kaya temen-temen lain pak." Jawab Dirgo.
"Emang Dirgo mau punya ibu baru?" Tanya Reza.
"Mau, tapi aku takut." Jawab Dirgo.
"Takut kenapa?" Tanya Reza.
"Katanya ibu tiri itu jahat." Jawab Dirgo.
"Hahaaha...." Sontak Reza tertawa sambil mengusap-ngusap kepala Dirgo.

Dalam tawa Reza berfikir dan mencoba mengerti perasaan anaknya itu. Tapi Reza juga bingung siapa orang yang cocok untuknya dan Dirgo. Dekat dengan perempuan pun tidak. Namun Reza tidak menganggap permintaan Dirgo menjadi beban.

Suatu hari Dirgo pulang sekolah Dirgo demam tinggi. Rini bibi Dirgo kebingungan harus bagaimana. Akhirnya Rini memanggil suaminya yang ada di pangkalan ojek untuk segera mengantarkan Dirgo ke dokter. Sementara Rini menunggu dirumah bersama Boni anaknya, Rini memberitahukan Reza mengenai keadaan Dirgo yang demam tinggi melalui SMS.“Dirgo panas tinggi dibawa ke klinik sama abang lu.” Tulis Rini dalam pesan singkat.

Reza yang membaca pesan itu cukup panik, karena jarang sekali Dirgo sakit. Tanpa pikir panjang Dirgo izin untuk pulang kepada atasan di kantornya yang bernama Ibu Merlin.

“Bu maaf saya boleh bicara?” Tanya Reza.

“Boleh, kenapa?” Jawab ibu Merlin.

“Begini bu barusan saya mendapat kabar dari kakak saya kalau anak saya demam tinggi, ini ga biasanya bu, kalo boleh saya izin pulang dulu untuk lihat keadaan anak saya.” Kata Reza.

“Selesaikan pekerjaan kamu dulu Reza, kan sudah ada istri dan keluarga kamu yang merawatnya, ini kita dikejar deadline.” Jawab Bu Merlin.

“Tapi bu firasat saya ga enak, tolong ya bu izinkan saya, lagi pula saya tidak punya istri jadi tidak ada yang merawat anak saya, istri saya meninggal sejak 7 tahun lalu.” Kata Reza.

“Oh gitu.” Bu merlin kaget dan baru tahu jika Reza sudah tidak memiliki istri sejak lama.

“Boleh ya bu?” Tanya Reza lagi.

“Oke saya izinkan kamu.” Kata bu Merlin.

“Terimakasih bu Mer, jika urusan saya sudah selesai saya akan kembali lagi.” Kata Reza.

Lalu Reza segera pulang, dan saat sampai di rumah Rini bilang kalau Dirgo masih di klinik dengan Agus. Tak pikir panjang Reza langsung menyusul ke klinik. Dan langsung bertemu Agus.

“Bang, Gimana Dirgo?” Tanya Reza.

“Dirgo panasnya tinggi banget ini lagi di buat rujukan ke Rumah sakit.” Jawab Agus,

“Jadi maksudnya Dirgo suruh dirawat?” Tanya Reza.

“Iya tadi kata dokternya gitu, coba lu masuk sono ngomong sendiri.” Kata Agus.

Reza langsung masuk ke ruang perawatan da melihat dirgo terbaring dengan badan yang panas. Di situ juga ada dokter yang sedang menangani. Ternyata setelah bicara dengan dokter memang Dirgo disarankan untuk di rawat dan cek laboratorium. Akhirnya Dirgo dirujuk untuk ke rumah sakit terdekat.

Setelah beberapa jam di IGD rumah sakit akhirnya Dirgo mendapatkan kamar inap. Agus pun masih disitu menamani Dirgo dan Reza. Namun ketika sudah dapat kamar Reza menyuruh agus pulang.

“Bang, abang pulang aja gak apa-apa biar gue yang jagain Dirgo.” Kata Reza.

“Lu yakin?” Tanya Agus.

“Iya bang gak apa-apa lagian ini dah masuk kamar udah ga terlalu ribet.” Jawab Reza.

“Yaudah gue pulang dulu, kalo lu perlu apa-apa telpon gue, entar deh maleman gue bawain baju-baju lu sama baju-baju Dirgo.” Kata Agus.

“Nah, bener tuh bang, pengen mandi gue, lepek banget ini.” Kata Reza.

“Yaudah gue balik dulu ya.” Kata Agus.

“Iya bang ati-ati, makasih ya bang dah nolongin gue dan Dirgo.” Kata Reza.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter melalui laboratorium akhirnya diketahui pemyakit dirgo. Dirgo terkena DBD. Sontak Reza sangat sedih dan bingung harus bagaimana. Dirgo adalah anak satu-satunya yang sangat dicintai. Tidak ada yang dimiliki selaim Dirgo.

Di sebuah kamar rumah sakit Reza menemani Dirgo. Ini pertama kalinya Dirgo dirawat di rumah sakit. Dan Reza sangat sedih karena di sisi lain dia harus bekerja sedangkan Dirgo juga tidak mungkin ia tinggal.

“Bapak kenapa? Bapak nangis ya? Tanya Dirgo.

“Bapak sedih Dirgo sakit. Bapak pengen Dirgo cepet sembuh. Bisa main lagi dan bisa sekolah lagi “ Jawab Reza.

“Yaudah ayo pulang pak Dirgo gak apa-apa.” Ucap Dirgo.

“Dirgo istirahat dulu, sampe kamu benar-benar sembuh. Bapak ga mau kamu kenapa-napa.” Kata Reza.

“Dirgo ga betah pak dari tadi di sini. Dirgo pengen pulang, pengen main sama bang Boni.” Kata Dirgo.

“Dirgo makan dulu ya? Bapak suapin.” Tanya Reza.

“Dirgo ga laper pak.” Jawab Dirgo.

“Tapi Dirgo harus makan biar cepat sehat, katanya kamu mau cepet pulang.” Kata Reza.

Akhirnya Dirgo mau makan. Dan suasana mulai mencair. Mereka mulai bercanda. Dan tak lama Dirgo tidur. Setelah itu Agus datang membawakan pakaian Dirgo dan Reza.

“Za ni baju-baju lu sama Dirgo.” Kata Agus.

“Iya makasih ya bang.” Kata Reza.

“Iye, eh gimana Dirgo keadaannya? Kata dokter sakit apa?” Tanya Agus.

“Dirgo kena DBD.” Jawab Reza.

“Ya ampun!!” Agus terbengong dan kaget.

Agus merasa takut jika nanti ada korban DBD lagi. Karena Dirgo kan seharian juga tinggal di rumahnya. Agus takut anak dan istrinya juga akan terjangkit.

“Yaudah deh besok gue bongkar-bongkarin barang-barang dirumah, yang bikin sarang nyamuk. Got-got juga gue bersihin.” Kata Agus.

“Bang gue ga nyalahin lu.” Kata Reza

“Ya gue tau, tapi kan gue juga ga mau ada korban lagi. Di situ kan ada anak bini gue juga. Gue ga mau nanti ada yang kena.” Jawab Agus.

“Ya bang terserah lu. Kita juga ga tau kan Dirgo kena itu dimana. Bisa aja di sekolah.” Kata Reza.

“Iya Juga sih. Terus besok gimana lu kerja? Kalo lu mau kerja gak apa-apa biar gue yang jagain Dirgo, gue kan Cuma ngojek gampanglah. Tanya Agus.

“Ga usah bang, gue ga tega ninggalin Dirgo, gue izin aja deh.” Jawab Reza.

“Yaudah kalo gitu, kalo perlu bantuan bilang aja ya.” Kata Agus.”

DBD  akan berbahaya jika tidak segera di tangani. Oleh karenaa itu Dirgo harus dirawat beberapa hari agar bisa lekas sehat. Masalah biaya rumah sakit Reza tidak terlalu pusing. Karena ditanggung BPJS. Reza bersyukur, perusahaan tempatnya bekerja mendaftarkan dirinya dan Dirgo dalam peserta BPJS. Sehingga Dirgo bisa mendapatkan pengobatan secara gratis.

Keesokan harinya eman-teman dan atasan Reza dikantor pun satu per satu datang menjenguk. Termasuk atasan reza bu Merlin.  Mereka memberikan support kepada Reza dan Dirgo. Dan tentunya perusahaan tidak keberatan dengan absennya Reza di kantor untuk beberapa hari.

Setelah 5 hari dirawat akhirnya Dirgo diijinkan pulang oleh dokter. Dirgo sangat senang bisa pulang kerumah. Keesokah harinya Reza kembali bekerja. Karena sudah beberapa hari tidak mask kerja. Dirgo kembali dititipkan pada paman dan bibinya yaitu Agus dan Rini.

Ketika sampai dikantor dia mendatangi bu Merlin. Menyatakan terimakasih bu Merlin mengizinkan Reza untuk tidak masuk kantor karena menjaga Dirgo.. Kepada kepala HRD pun Reza mengatakan hal yang sama. Justru Reza sangat berterimakasih karena karyawan dan keluarga di daftarkan BPJS kesehatan oleh kantor sehingga sangat meringankan dalam pengobatan.

Reza juga sadar sebenrnya bu Merlin itu judes dan galak bukan tanpa sebab. Bu Merlin begitu karena pencapain sales Reza selalu buruk. Di tambah lagi demgan kurangnya disiplin Reza yang sering terlambat.Namun dengan kejadian ini Reza menjadi semakin bekerja keras. Reza semakin semangat bekerja karena berkat perusahaan juga Dirgo bisa terselamatkan. Target-target Reza di kantor sebagai sales selalu dia kejar hingga tercapai. Reza semakin loyal dengan perusahaannya.

Reza sadar terkadang kita baru mengerti bahwa kita memang harus selalu  bersyukur dan sabar dalam menjalani karir di dalam perusahaan. Jangan hanya berkeluh kesah banyak menuntut tapi kerja nya tidak maksimal. Kita harus tunjukkan dulu kualitas diri kita dalam bekerja untuk perusahaan. Reza yakin kalo dia bekerja dengan ikhkas dan sungguh-sungguh maka hasinya pasti akan baik pula. Semenjak saat itu pola pikir Reza berubah. Bahwa kesuksesan tidak datang dengan instan. Tapi harus diraih dengan kerja keras yang tekun.

Dan akhirnya satu tahun setelah perubahan itu, Reza tetap konsisten dengan cara kerjanya yang baik. Sales selalu tercapai, disiplin dan mampu memberikan ide-ide baru. Hingga suatu saat  Reza ditawarkan menjadi supervisor. Reza pun menerima tawaran itu. Dengan target yang lebih besar tanggung jawab lebih banyak. Namun pendapatan juga akan meningkat. Kandidatnyan tidak hanya Reza, tapi ada beberapa rekan lainnya. Setelah melewati masa-masa percobaan dan seleksi ketat, Reza lah yang terpilih untuk menjadi superviser sales salah satu produk.

Reza merasa apa yang dilakukannya tidak sia-sia, semangat ini berkat anak satu-satunya yaitu Dirgo. Reza pulang kerumah dengan membawa berita gembira untuk Dirgo. Dirgo pun senang.

“Yeeeee… Bapak hebat, berarti nanti bisa pindah kontrakan ya pak?” Tanya Dirgo.

“Siap bos bulan depan kita pindah.” Jawab Reza dengan semangat.

Reza sangat bahagia, apalagi Dirgo juga senang. Meski tidak ada ibu, mereka berdua seorang anak dan bapak yang sangat kompak dan tidak bisa dipisahkan. Hingga saat ini Reza belum bisa memberikan ibu untuk Dirgo, karena reza belum menemukan seseorang yang cocok untuknya. Meski begitu Reza dan Dirgo berharap suatu hari anggota keluarganya akan bertambah dan menjadi keluarga yang semakin bahagia.

Tamat ya sampai sini.

Next kalo ada season 2 bisa dilanjut ceritanya.

Terimakasih