Sastra

ANAKKU SEMANGATKU

Penulis : Dila Puspita Sari

Reza adalah bapak satu anak yang bekerja di sebuah perusahaan. Istri Reza meninggal saat melahirkan anaknya yang di beri nama Dirgo. Sejak bayi Dirgo di titipkan kepada kakak ipar Reza yaitu kakak kandung dari isterinya yang bernama Rini. Rini juga mempunyai anak dan suami. Rini mengurus Dirgo saat Reza bekerja sambil mengurus anaknya yang umurnya sama dengan Dirgo.

Waktu terus berjalan dan kondisi hidup Reza dalam kesendirian sambil membesarkan anak laki-laki satu-satunya itu. Tak terasa 7 tahun sudah berlalu, sekarang saatnya Dirgo masuk Sekolah Dasar. Dirgo di masukkan ke Sekolah Dasar Negeri dekat rumahnya. Dan tak jauh juga dari rumah Rini agar mudah antar dan jemput anak-anak. Selain itu Boni anak Rini juga masuk kesekolah yang sama.      

Malam setelah pulang kerja Reza ngobrol dengan Dirgo sebelum tidur.
"Dirgo kamu harus rajin belajar jangan banyak main lg karena bulan depan kamu sudah masuk SD." Ucap Reza
"Asik aku sekolah! Aku satu  sekolah ya sama Abang Boni?" Tanya Dirgo
"Iya, biar bibi Rini bisa gampang pantau  kamu dan bang Boni." Ucap Reza
"Ok, terus kapan beli tas dan sepatunya?" Tanya Dirgo
"Nanti ya tunggu bapak gajian." Jawab Reza sambil memeluk anak kesayangnnya itu.

Setiap sebelum berangkat kerja Reza mengantarkan Dirgo kerumah Rini yang tak jauh dari rumah kontrakannya.
"Dirgo, Bapak kerja dulu ya, kamu jangan  nakal sama bibi." Pesan Reza pada Dirgo.
"Dia tak nakal kok asal  kau  kasih uang  jajan, biar ga berantem  terus sama Boni." Rini bermaksud menyinggung Reza agar memberinya uang untuk belanja dan kebutuhan  makan Dirgo.
"Ini po ada sedikit buat tambahan dapur." Reza berkata sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam uang sekitar Lima Puluh Ribu Rupiah.
"Iye, makasih." Ungkap Rini sambil mengambil uang itu.

Setiap bulan setelah gajian Reza selalu memberi uang bulanan untuk Rini sebagai upah mau  mengurus Dirgo dan uang belanja untuk  makan Dirgo. Namun Rini sering sekali meminta uang tambahan di luar uang bulanan itu. Dengan alasan uang bulanan yang diberikan Reza tidak cukup untuk satu bulan padahal uang yang diberi Reza setiap bulan lebih dari cukup. Namun Reza tidak pernah mempermasalahkan sikap Rini kakak  iparnya itu. Justru Reza beruntung Rini masih mau  membantu merawat Dirgo.

Reza bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan di daerah  Jakarta. Reza adalah seorang pekerja keras. Bahkan dulu saat Reza belum mendapatkan pekerjaan dia rela melakukan pekerjaan apapun. Dia pernah menjadi buruh di sebuah bagunan proyek dan dia juga pernah jadi kuli angkut barang di pabrik. Reza bersyukur sekarang kerjanya tidak sekeras dulu. Dan meski Reza seorang lulusan sarjana rasanya mencari pekerjaan di Jakarta ini tidaklah  mudah.

Di tempat Reza sekarang bekerja manager salesnya adalah perempuan keturunan Batak. Reza biasa memamggilnya ibu Merlin atau ibu Mer. Ibu Mer ini belum menikah meski usianya sudah sangat matang. Suatu pagi dikantor Reza ngobrol dengan teman-temannya saat ibu Mer belum datang.
"Eh lu tau ga ibu Mer itu perawan tua?" Kata Budi salah seorang teman Reza.
"Masa sih padahal dia cantik, kok belum kawin juga." Reza menjawab.
"Ibu Mer itu terlalu galak, judes, jutek jadi mana ada yang mau sama dia." Sahut Sunu teman Reza yang lainnya.
"Hahahhahaaaa" semua yang ikut ngobrol disitu tertawa.

“Nah Reza kan Duda, mau kau sama dia?” Tanya Budi.

“Nggak lah!” Jawab Reza

Tujuh tahun menjadi duda Reza belum pernah berfikir mencari istri lagi. Reza trauma karena pernah merasakan kehilangan seseorang yang dicintainya. Oleh karena itu dia takut untuk bisa mencintai seorang wanita lagi. Padahal paras Reza cukup tampan dan tak sulit untuk mendapatkan seorang wanita. Karena sampai saat ini yang prioritasnya adalah Dirgo anak satu-satunya. Dia selalu berusaham menjadi bapak yang baik untuk Dirgo. Dirgo pun sangat mencintai bapaknya. Bagi Dirgo bapaknya adalah pahlawannya yang sangat dia banggakan.

Suatu hari saat pulang kantor Reza menjemput Dirgo di rumah Rini. Reza mendengar Dirgo menangis ketika sampai di depan rumah Rini. Reza kaget lalu segera masuk ke rumah Rini.
"Dirgo kenapa nangis?" Tanya Reza.
"Berantem  terus sama Boni heran  nggak ada yang mau ngalah, tuh liat Boni juga nangis." Jawab Rini.
"Dirgo kamu jangan nakal ya, ingat kamu itu udah di urusin sama Bibi jadi jangan nakal nurut sama bibi." Reza menasihati Dirgo
"Udahlah namanya juga anak-anak nggak usah diributin, itu kan biasa." Sahut Agus suami Rini yang baru masuk rumah juga setelah pulang kerja.
"Iya bang." Jawab Reza.
"Lu ga mau apa kasih ibu buat Dirgo, kasihan Dirgo dia butuh perhatian kasih sayang." Kata Agus.
"Ga tau bang, rasanya gue sedih kalo inget bini gue dulu berjuang ngelahirin Dirgo." Jawab Reza.
"Lu harus ikhlasin, udah 7 tahun berlalu, lu harus membuka lembaran baru. Sebenernya gue kasihan sm lu, semua lu lakuin sendiri.” Agus berusaha menasihati Reza agar hidup Reza lebih bahagia dengan adanya pendamping dan ibu buat Dirgo.
"Iya bang, entar gue pikirin lagi, udah malem gue pulang dulu." Jawab Reza.

Semenjak perbincangan malam itu dengan Agus, Reza mulai berfikir kalau pendamping itu bukan hanya untuknya tapi untuk kebaikan Dirgo juga. Reza bertekad akan mencoba membuka hati dan mencari pendamping hidup lagi. Tentunya yang bisa menerima keberadaan Dirgo dan bisa menyayangi Dirgo.

Tiba saatnya Gajian. Dan saat libur kerja Reza dan Dirgo pergi ke sebuah pasar untuk mencari sepatu, tas dan seragam merah putih untuk sekolah Dirgo. Dirgo sangat senang sekali sebentar lagi akan mulai masuk Sekolah SD. Dirgo dan bapaknya berkeliling pasar, dan Dirgo sangat senang sekali karena bisa membeli sepatu dan tas baru. Setelah semua yang dicari sudah dibeli Reza dan Dirgo makan bakso di dekat pasar itu.
"Dirgo mau makan bakso nggak?" Tanya Reza.
"Mau-mau!" Dirgo sambil mengangguk dengan ekspresi senang.
Mereka lalu duduk dan memesan bakso. Sambil makan bapak dan anak itu bercerita. Tiba-tiba Dirgo bicara sesuatu yang membuatnya sedih.
"Pak, andai aja ada ibu." Dengan ekspresi lirih Dirgo bicara.
"Kenapa?" Tanya Reza.
"Aku pengen kaya temen-temen lain pak." Jawab Dirgo.
"Emang Dirgo mau punya ibu baru?" Tanya Reza.
"Mau, tapi aku takut." Jawab Dirgo.
"Takut kenapa?" Tanya Reza.
"Katanya ibu tiri itu jahat." Jawab Dirgo.
"Hahaaha...." Sontak Reza tertawa sambil mengusap-ngusap kepala Dirgo.

Dalam tawa Reza berfikir dan mencoba mengerti perasaan anaknya itu. Tapi Reza juga bingung siapa orang yang cocok untuknya dan Dirgo. Dekat dengan perempuan pun tidak. Namun Reza tidak menganggap permintaan Dirgo menjadi beban.

Suatu hari Dirgo pulang sekolah Dirgo demam tinggi. Rini bibi Dirgo kebingungan harus bagaimana. Akhirnya Rini memanggil suaminya yang ada di pangkalan ojek untuk segera mengantarkan Dirgo ke dokter. Sementara Rini menunggu dirumah bersama Boni anaknya, Rini memberitahukan Reza mengenai keadaan Dirgo yang demam tinggi melalui SMS.“Dirgo panas tinggi dibawa ke klinik sama abang lu.” Tulis Rini dalam pesan singkat.

Reza yang membaca pesan itu cukup panik, karena jarang sekali Dirgo sakit. Tanpa pikir panjang Dirgo izin untuk pulang kepada atasan di kantornya yang bernama Ibu Merlin.

“Bu maaf saya boleh bicara?” Tanya Reza.

“Boleh, kenapa?” Jawab ibu Merlin.

“Begini bu barusan saya mendapat kabar dari kakak saya kalau anak saya demam tinggi, ini ga biasanya bu, kalo boleh saya izin pulang dulu untuk lihat keadaan anak saya.” Kata Reza.

“Selesaikan pekerjaan kamu dulu Reza, kan sudah ada istri dan keluarga kamu yang merawatnya, ini kita dikejar deadline.” Jawab Bu Merlin.

“Tapi bu firasat saya ga enak, tolong ya bu izinkan saya, lagi pula saya tidak punya istri jadi tidak ada yang merawat anak saya, istri saya meninggal sejak 7 tahun lalu.” Kata Reza.

“Oh gitu.” Bu merlin kaget dan baru tahu jika Reza sudah tidak memiliki istri sejak lama.

“Boleh ya bu?” Tanya Reza lagi.

“Oke saya izinkan kamu.” Kata bu Merlin.

“Terimakasih bu Mer, jika urusan saya sudah selesai saya akan kembali lagi.” Kata Reza.

Lalu Reza segera pulang, dan saat sampai di rumah Rini bilang kalau Dirgo masih di klinik dengan Agus. Tak pikir panjang Reza langsung menyusul ke klinik. Dan langsung bertemu Agus.

“Bang, Gimana Dirgo?” Tanya Reza.

“Dirgo panasnya tinggi banget ini lagi di buat rujukan ke Rumah sakit.” Jawab Agus,

“Jadi maksudnya Dirgo suruh dirawat?” Tanya Reza.

“Iya tadi kata dokternya gitu, coba lu masuk sono ngomong sendiri.” Kata Agus.

Reza langsung masuk ke ruang perawatan da melihat dirgo terbaring dengan badan yang panas. Di situ juga ada dokter yang sedang menangani. Ternyata setelah bicara dengan dokter memang Dirgo disarankan untuk di rawat dan cek laboratorium. Akhirnya Dirgo dirujuk untuk ke rumah sakit terdekat.

Setelah beberapa jam di IGD rumah sakit akhirnya Dirgo mendapatkan kamar inap. Agus pun masih disitu menamani Dirgo dan Reza. Namun ketika sudah dapat kamar Reza menyuruh agus pulang.

“Bang, abang pulang aja gak apa-apa biar gue yang jagain Dirgo.” Kata Reza.

“Lu yakin?” Tanya Agus.

“Iya bang gak apa-apa lagian ini dah masuk kamar udah ga terlalu ribet.” Jawab Reza.

“Yaudah gue pulang dulu, kalo lu perlu apa-apa telpon gue, entar deh maleman gue bawain baju-baju lu sama baju-baju Dirgo.” Kata Agus.

“Nah, bener tuh bang, pengen mandi gue, lepek banget ini.” Kata Reza.

“Yaudah gue balik dulu ya.” Kata Agus.

“Iya bang ati-ati, makasih ya bang dah nolongin gue dan Dirgo.” Kata Reza.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter melalui laboratorium akhirnya diketahui pemyakit dirgo. Dirgo terkena DBD. Sontak Reza sangat sedih dan bingung harus bagaimana. Dirgo adalah anak satu-satunya yang sangat dicintai. Tidak ada yang dimiliki selaim Dirgo.

Di sebuah kamar rumah sakit Reza menemani Dirgo. Ini pertama kalinya Dirgo dirawat di rumah sakit. Dan Reza sangat sedih karena di sisi lain dia harus bekerja sedangkan Dirgo juga tidak mungkin ia tinggal.

“Bapak kenapa? Bapak nangis ya? Tanya Dirgo.

“Bapak sedih Dirgo sakit. Bapak pengen Dirgo cepet sembuh. Bisa main lagi dan bisa sekolah lagi “ Jawab Reza.

“Yaudah ayo pulang pak Dirgo gak apa-apa.” Ucap Dirgo.

“Dirgo istirahat dulu, sampe kamu benar-benar sembuh. Bapak ga mau kamu kenapa-napa.” Kata Reza.

“Dirgo ga betah pak dari tadi di sini. Dirgo pengen pulang, pengen main sama bang Boni.” Kata Dirgo.

“Dirgo makan dulu ya? Bapak suapin.” Tanya Reza.

“Dirgo ga laper pak.” Jawab Dirgo.

“Tapi Dirgo harus makan biar cepat sehat, katanya kamu mau cepet pulang.” Kata Reza.

Akhirnya Dirgo mau makan. Dan suasana mulai mencair. Mereka mulai bercanda. Dan tak lama Dirgo tidur. Setelah itu Agus datang membawakan pakaian Dirgo dan Reza.

“Za ni baju-baju lu sama Dirgo.” Kata Agus.

“Iya makasih ya bang.” Kata Reza.

“Iye, eh gimana Dirgo keadaannya? Kata dokter sakit apa?” Tanya Agus.

“Dirgo kena DBD.” Jawab Reza.

“Ya ampun!!” Agus terbengong dan kaget.

Agus merasa takut jika nanti ada korban DBD lagi. Karena Dirgo kan seharian juga tinggal di rumahnya. Agus takut anak dan istrinya juga akan terjangkit.

“Yaudah deh besok gue bongkar-bongkarin barang-barang dirumah, yang bikin sarang nyamuk. Got-got juga gue bersihin.” Kata Agus.

“Bang gue ga nyalahin lu.” Kata Reza

“Ya gue tau, tapi kan gue juga ga mau ada korban lagi. Di situ kan ada anak bini gue juga. Gue ga mau nanti ada yang kena.” Jawab Agus.

“Ya bang terserah lu. Kita juga ga tau kan Dirgo kena itu dimana. Bisa aja di sekolah.” Kata Reza.

“Iya Juga sih. Terus besok gimana lu kerja? Kalo lu mau kerja gak apa-apa biar gue yang jagain Dirgo, gue kan Cuma ngojek gampanglah. Tanya Agus.

“Ga usah bang, gue ga tega ninggalin Dirgo, gue izin aja deh.” Jawab Reza.

“Yaudah kalo gitu, kalo perlu bantuan bilang aja ya.” Kata Agus.”

DBD  akan berbahaya jika tidak segera di tangani. Oleh karenaa itu Dirgo harus dirawat beberapa hari agar bisa lekas sehat. Masalah biaya rumah sakit Reza tidak terlalu pusing. Karena ditanggung BPJS. Reza bersyukur, perusahaan tempatnya bekerja mendaftarkan dirinya dan Dirgo dalam peserta BPJS. Sehingga Dirgo bisa mendapatkan pengobatan secara gratis.

Keesokan harinya eman-teman dan atasan Reza dikantor pun satu per satu datang menjenguk. Termasuk atasan reza bu Merlin.  Mereka memberikan support kepada Reza dan Dirgo. Dan tentunya perusahaan tidak keberatan dengan absennya Reza di kantor untuk beberapa hari.

Setelah 5 hari dirawat akhirnya Dirgo diijinkan pulang oleh dokter. Dirgo sangat senang bisa pulang kerumah. Keesokah harinya Reza kembali bekerja. Karena sudah beberapa hari tidak mask kerja. Dirgo kembali dititipkan pada paman dan bibinya yaitu Agus dan Rini.

Ketika sampai dikantor dia mendatangi bu Merlin. Menyatakan terimakasih bu Merlin mengizinkan Reza untuk tidak masuk kantor karena menjaga Dirgo.. Kepada kepala HRD pun Reza mengatakan hal yang sama. Justru Reza sangat berterimakasih karena karyawan dan keluarga di daftarkan BPJS kesehatan oleh kantor sehingga sangat meringankan dalam pengobatan.

Reza juga sadar sebenrnya bu Merlin itu judes dan galak bukan tanpa sebab. Bu Merlin begitu karena pencapain sales Reza selalu buruk. Di tambah lagi demgan kurangnya disiplin Reza yang sering terlambat.Namun dengan kejadian ini Reza menjadi semakin bekerja keras. Reza semakin semangat bekerja karena berkat perusahaan juga Dirgo bisa terselamatkan. Target-target Reza di kantor sebagai sales selalu dia kejar hingga tercapai. Reza semakin loyal dengan perusahaannya.

Reza sadar terkadang kita baru mengerti bahwa kita memang harus selalu  bersyukur dan sabar dalam menjalani karir di dalam perusahaan. Jangan hanya berkeluh kesah banyak menuntut tapi kerja nya tidak maksimal. Kita harus tunjukkan dulu kualitas diri kita dalam bekerja untuk perusahaan. Reza yakin kalo dia bekerja dengan ikhkas dan sungguh-sungguh maka hasinya pasti akan baik pula. Semenjak saat itu pola pikir Reza berubah. Bahwa kesuksesan tidak datang dengan instan. Tapi harus diraih dengan kerja keras yang tekun.

Dan akhirnya satu tahun setelah perubahan itu, Reza tetap konsisten dengan cara kerjanya yang baik. Sales selalu tercapai, disiplin dan mampu memberikan ide-ide baru. Hingga suatu saat  Reza ditawarkan menjadi supervisor. Reza pun menerima tawaran itu. Dengan target yang lebih besar tanggung jawab lebih banyak. Namun pendapatan juga akan meningkat. Kandidatnyan tidak hanya Reza, tapi ada beberapa rekan lainnya. Setelah melewati masa-masa percobaan dan seleksi ketat, Reza lah yang terpilih untuk menjadi superviser sales salah satu produk.

Reza merasa apa yang dilakukannya tidak sia-sia, semangat ini berkat anak satu-satunya yaitu Dirgo. Reza pulang kerumah dengan membawa berita gembira untuk Dirgo. Dirgo pun senang.

“Yeeeee… Bapak hebat, berarti nanti bisa pindah kontrakan ya pak?” Tanya Dirgo.

“Siap bos bulan depan kita pindah.” Jawab Reza dengan semangat.

Reza sangat bahagia, apalagi Dirgo juga senang. Meski tidak ada ibu, mereka berdua seorang anak dan bapak yang sangat kompak dan tidak bisa dipisahkan. Hingga saat ini Reza belum bisa memberikan ibu untuk Dirgo, karena reza belum menemukan seseorang yang cocok untuknya. Meski begitu Reza dan Dirgo berharap suatu hari anggota keluarganya akan bertambah dan menjadi keluarga yang semakin bahagia.

Tamat ya sampai sini.

Next kalo ada season 2 bisa dilanjut ceritanya.

Terimakasih

LOVE IN PABRIK

Penulis : Budiman

Sarni masih malas bangun pagi, masih ngucek-ngucek mata sambil ngendus-ngendus bantal, nampak malas bangun tidur.

“Bangun sarni, udah subuh nih,,,lu belum bangun bae[1] lu” emaknya Sarni teriak-teriak kencengnya bukan kepalang.

“ Edah,,,,,biarin aje, emang tuh anak begitu, agak males bangunnya, entar ge bangun” Bapaknya Sarni nimpalin.

“Iye mak, ntar ngapa….ini bau iler-nya masih seddep nih” Sarni bangun sambil ketawa dikit.

Sarni memang karyawan pabrik, remaja mudi ini senang kerja di pabrik karena kepengen belajar megang mesin canggih katanya, tapi malah kerjanya melototin[2] battere aje. Sarni lulusan sekolah menengah kejuruan, jurusannya sih administrasi kantor, tapi kerjanya kagak ada nyambung-nyambungnye. Pagi ini Sarni udah selesai mandi dan siap berangkat kerja ke pabrik, di kampung selang ronggeng dia tinggal, sebelah dalemnya cibitung.

mak Edah “ ganti napa kaos kaki lu, et dah itu udah bau bangets”

Sarni “ ini mah baru kemarin mak dipakainya, masih mending ini dibanding kaos kaki temen-temen nyang cowok di pabrik, lah baunya ampe sekilo masih ke cium”

Bapak Darma “ et dah[3], itu kaos kaki apa sampah pasar induk cibitung, lu jangan kayak gitu sarni ya,,,kalau kerja itu buat lingkungan seneng, mau orangnya atau pun tempatnya, ngerti kagak lu”

Sarni “Iye beh, tahu sarni ge, ini udah salin kaos kaki nye, sarni berangkat dulu ya emak ame babeh” sarni langsung ngeburu telapak tangan mak Edah sama pak Darma, langsung di cium, sekelebat udah jalan keluar pintu.

Emang sarni kelewat rajin, pabrik tempatnya kerja kagak jauh-jauh amet dari rumah tinggalnya, tapi dia jam 6 udah nyampe pabrik. Walaupun Peranakan betawi, yang dia sendiri kagak apal silsilahnya, sopan santunnya masih ada, tata kramanya masih dijaga.

Sarni “ assalamualaikum pak satpam, selamat pagi semuanya yeh” sambil masuk gerbang nuju absenan.

Pak satpam “ Lah neng, udah setahun kerja di sini, masih sendirian bae kagak ada yang nganterin napa?”

Sarni “ alhamdulilah pak, belum ada, belum ada yang aye[4] pilih” sambil nyengir, lari kecil ke area pejalan kaki.

Pabrik tempatnya Sarni kerja lumayan rapi, tempat yang jalan kaki aja dikasih garis, ya walaupun masih kagak rapih juga pada jalannya kalau pas ada yang pulang ama yang masuk bebarengan. Area rokoknya juga khusus, malah sekarang dikantin kagak ada jajanan lagi, gegara ada yang bawa jajanan ke dalam pabrik tempat kerjanya Sarni.

Sarni masuk pakai Id card, kagak sembarangan orang masuk, perusahaan yang pakai security system kalau kata orang-orang mah, langsung masukin tas ke loker sambil lihat ke tangga.

“ kenapa lu lihatin gw “ Sarman ngomong kenceng banget.

“ Lah pan[5] mata aye lagi ke situ, kebeneran lu turun dari tangga, ya aye liat lu” Sarni nimpalin lagi sambil senyum.

“ jangan-jangan lu naksir gw udah lama ya….” Sarman ke-ge-er-an.

“ Lah…..kalau jodoh kagak kemane, kalau dibilang kagak naksir, aye takutnye malah jodoh” Sarni sambil ngelangkah menuju meja kerja nya, yang katanya tempat melototin battere itu.

Bel bunyi, tandanya sudah jam 7:00, Sarni paling seneng senam dah, langsung lari ke halaman, senam bareng temen-temennya, ditempat kerja Sarni memang tiap pagi ada senam, bahkan dari puluhan tahun lalu, memang budayanya begitu, pagi-pagi itu selalu senam, meskipun nampak anak sekarang kurang mau gerak-gerak senam kayak Sarni begitu, anak sekarang males gerak, jadi sering sakit atau nggak kesurupan[6] deh. Habis senam, Sarni nyanyi mars perusahaan, suaranya emang sumbang tapi semangatnya luar biasa, apalagi tujuh prinsip perusahaan, hapal dari satu ampe tujuh, malah dibolak-balik ge hapal.

Sarni udah mulai kerja, melototin battere nyari yang ga  sesuai sama standarnya.

“ udah dapet berapa tuh yang penyok?” kata Dewa, seniornya Sarni tapi bagian Quality.

“belum bang, ini masih proses nih” kata Sarni, sambil senyum ngeliatin mukanya Dewa yang emang putih bersih, hidung mancung, mata belo kayak burung hantu.

Udah lama Sarni kesengsem[7], suka dengan bang Dewa, tapi bang Dewa udah punya istri, malah istrinya dua, padahal baru umur tiga puluh dua, tapi punya istri dua, punya rumah dua, punya mobil dua, tapi sarni tetep suka.

“ ya udah, ntar habis istirahat gw ke sini lagi ya” kata bang Dewa sambil ngeloyor pergi ke tempat lain.

“ oke bang, aku selalu setia menunggu,,,he,,,he,,,he,,,” Sarni sambil ketawa cekikikan.

Sarni, memang kagak tinggi badannya, tapi wajah putih mulusnya yang khas betawi, bikin orang kagak tahan pengen mandang terus, manisnya ga ketulungan, badannya gak seksi, tapi jadi semampai malah kalau dilihat dari arah mana aja, enak dipandang. Banyak cowok yang naksir[8] sama Sarni, termasuk Sarman yang selalu godain sarni, tapi sarni tetep saja dihatinya cuma ada bang Dewa.

                                        

 “ lu lagi ngelamun ya sar” bang Dewa ngagetin.

“ ganggu aja nih, tadi habis istirahat kemana bang? Aye tungguin aje kagak kemari, pan jadi pegel nunggu” kata Sarni.

“ kagak jadi, dikasih tugas sama bos gw, jadi ga sempat nge-chek ke marih[9] dah” bang Dewa niruin logat bahasanya Sarni.

Bang Dewa memang bukan orang asli cibitung, pabrik ini memang ga melulu nerima orang kampung sekitar, tapi juga dari daerah mana aje, asal sesuai proses dan prosedurnya. Bang Dewa orang Manado, jadi kagak salah kalau putih dan ganteng pula, bang Dewa beda kayak Sarni, emang masuk kerja udah lulus kuliah, bahkan kuliahnya diluar negri kalau kagak salah, keluarga orang kaya di Manado, muslim yang taat beribadah, sempurna banget bagi Sarni yang kagak pindah ke lain hati, meski bang Dewa sudah dua istri.

“ nanti pulang bareng siapa?” bang Dewa nanya ke Sarni

“ sendiri bang, pan tiap hari ge begitu” Sarni nimpalin

“ Abang anter ya, sekali-kali” kata bang Dewa ngerayu Sarni

“ kagak ah bang, saye takut dibilang ngerebut suami orang, apalagi ngerebut suami dua orang” sambil nyengir Sarni ngomong.

“ Nggak ko, kali ini aja” bang Dewa mohon-mohon, kagak biasanya bang Dewa kelakuan begitu.

“ iya deh bang, tapi jangan mampir kemana-mana ya,,,langsung pulang ke rumah Sarni aja” pinta Sarni

“ Iya, abang ngerti ko” bang Dewa senyum.

Sarni pulang dianter bang Dewa, hati sarni dag-dig-dug kayak geluduk hujan, ser-seran kayak air mancur, malah warna-warni kayak pelangi di matanya Sarni, baru kali ini udah setahun kerja di pabrik ada yang nganterin, mana orang yang di-idam-idamin udah lama, orang yang nge-jogrok[10] aje dipojokan hati Sarni, yang tetep Sarni pendam rasa, tetep Sarni cinta dan idola.

“ udah sampai nih sar” bang Dewa ngagetin sekaligus ngebuyarin pelanginya Sarni.

“ duh,,,dah sampe ya bang, bang Dewa kagak mampir dulu nih?” Sarni basa-basi

“ Nggak deh sar, nggak enak sama orang-orang, kan sarni yang ngomong tadi kalau abang udah punya istri dua, masa maen lagi ke rumah perawan orang” sambil senyum kuda, bang Dewa bilang begitu.

“ oke deh bang, Sarni pulang ye” turun dari mobil fortunernya bang Dewa, yang baru kali ini juga Sarni seumur hidupnya naik mobil fortuner.

Sarni masuk ke rumahnya, nggak lupa salam dulu sama emak dan bapak, tapi kagak ada yang jawab, udah pada pules[11] semua rupanya. Sarni selalu bawa kunci rumah, karena memang kadang sering pulang lembur[12] malam, sampai jam 9 malam baru pulang. Sarni langsung ngejatuhin badan ke kasur, bahkan kagak salin sama lepas kaos kaki, langsung ngebayangin bang Dewa pujaan hati.

Jalan-jalan dipelangi gandengan tangan sama bang Dewa, dihati dan kelopak matanya Sarni yang mulai redup dilawan rasa ngantuk.

“ Sarni bangun lu!!!, et dah,,,,tiap hari emang emak lu harus bangunin lu terus?” emak Edah kenceng bangunin sarni.

“ ini udah dikamar mandi mak” sarni nyahut dikamar mandi

“ tumben[13] lu, biasanya lagi seneng nih kalau begini” mak Edah kayak udah tahu bangets kelakuan anaknya.

Sarni buru-buru berangkat kerja, mau nya sih biar ketemu bang Dewa lagi. Semua rutinitas harian udah dia lakukan, dari senam ampe masuk dan duduk lagi dimeja kerjanya.

“ Fokus dong kalau kerja, jangan ngelamun” Dodi, ngagetin Sarni. Dodi kerja dibagian Quality, bareng sama bang Dewa, staff nya bang Dewa.

“ bang Dewa mana?” Sarni nanya.

“ lah,,,,elu emang kagak tahu, dari kemarin bang Dewa itu koma, nih potonya” Dodi nunjukin poto bang Dewa lagi di ICU di rumah sakit besar di jakarta.

“Hah,,,,,,” Sarni bengong, Sarni jadi kayak patung. Kemarin itu siapa yang pulang bareng Sarni, Sarni mikirin itu terus. Mikir sampai setengah alam sadar.

“ Innalilahi wa innailahi rojiun” Dodi buka group Whatapps tim Quality, ada informasi bahwa bang Dewa udah meninggal.

Sarni masih matung, diem, tapi keluar air mata rembes, ngalir dari pinggir mata, ampe deres nge-banjirin pipi, tapi badan masih matung, pikirannya kagak ketahuan ada apa nggak, kosong melompong. Kagak lama langsung jatuh pingsan.

“ Tolong,,,,!!!!! ada yang pingsan” kata Dodi teriak

“ Ayo bawa ke klinik, gotong!” kata senior ditempat kerjanya.

Sarni dibawa ke klinik, diperiksa sama dokter, udah kagak ada nafasnya, nadinya udah hilang bareng sama cintanya, nafasnya lepas, lari ngejar bang Dewa, badannya digoyangin sama Dodi, udah gerak semua, tapi kosong, udah ga ke-isi lagi harapan, udah kagak ada lagi jiwa cinta yang nyisa. Duh,,Sarni,,,pergi bawa cinta setia ke bang Dewa yang istri dua di alam baka.

            Emak Edah dan bapak Darma, rawah-riwih[14] nangis sambil sesambat[15], didepan mayit Sarni yang lagi pada di-aji-in yasin sama tetangga dan keluarga dekat.

Bapak Darma “ Edah, ini ko berisik amet diluar rumah ya, pada rame amet orang dari mana sih?”

Emak Edah sambil kesel “ Kagak tahu bang ah,,,,aye kagak peduli’in, abang lihat aje keluar”

Bapak Darma keluar, lihat orang ampe ribuan karyawan-karyawati temennya Sarni pada datang ngelayat, ampe halaman rumahnye kagak muat, ke jalan-jalan, ke bawah pohon-pohon, rame orang pada ngelayat, pak Darma bingung, ko bisa sampai sebegitu ramenya orang pada datang.

Sontak[16] pak Darma ngomong dalam hati “ Sarni, amalan apa yang lu lakuin Sarni?, alhamdulilah neng, ini orang ribuan pada datang do’a-in lu”

Ada perempuan pakai kerudung lewat sambil ngomong nya cepet “ Sarni mah orangnya sopan santun, nyenengin orang sekitar beh, sifat setia nya luar biasa, walaupun suka sama istri orang tapi kagak pernah godain, kagak pernah ngerebut, kagak pernah ngelakuin yang dilarang adat sama agamanye” dia temennya Sarni kalau kerja, dan temen curhatnya Sarni kalau ada masalah. Dia cerita kelakuan Sarni di depan bapaknya, seolah tahu bapaknya lagi nanya dalam hati.

Bapak Darma “ IsnyaAllah lu senyum di alam sana neng, ditemenin pelangi kesukaan lu itu” sambil nangis lagi sesegukan[17].

Aliran kerubunan orang terus ngalir ngikutin jenazah Sarni yang dimakamin di astana kuburan selang ronggeng, terus harum kebawa angin, cerita Sarni yang tak disangka jadi obrolan warga yang muda sampai tua.



[1] Bae = saja

[2] Melotot = melihat dengan fokus

[3] Et dah = busyet dah

[4] Aye = saya

[5] Pan = memang

[6] Kesurupan = kemasukan roh halus

[7] Kesengsem = tergila-gila

[8] Naksir = suka

[9] Marih = sini

[10] Nge-jogrok = diam tak bergerak

[11] Pules = nyenyak

[12] Lembur = waktu kerja tambahan

[13] Tumben = tidak seperti biasanya

[14] Rawah-riwih = bergerak tapi sambil nangis

[15] Sesambat = manggil-manggil nama

[16] Sontak = seketika

[17] Sesegukan = menangis sedih sekali

TERIMA KASIH PANASONIC GOBEL

Penulis : Irenne Suhandy

Pagi hari yang cerah di hari Jumat, 17 November 2017,  tidak ada kebisingan suara Mama yang sibuk membangungkan Papa untuk segera berangkat ke kantor. Tercium udara pagi yang bercampur dengan aneka masakan Mama menyemangatiku untuk segera menjejakan kaki dan memulai hari yang indah tentu dengan Mama dan Papa serta adik kecilku. Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana, Mama Papa bekerja dari pagi sampai larut malam untuk mencukupi segala kebutuhan keluargaku. Bersyukur dan berterima kasih hari ini Papa, Mama, Aku dan Adik diberikan kesempatan untuk pergi ke Taman Safari Indonesia (TSI) GRATIS. Momen yang jarang dikecap keluargaku karena biayanya tidak sedikit.

 

Hari ini menjadi hari spesial buat kami, karena Aku, Adik serta Mama dan Papa, bisa ikut serta dalam Family’s Day Out berekreasi bersama ratusan peserta keluarga besar Panasonic GOBEL lainnya. Ini adalah kali pertama Adikku menginjakan kaki ke kebun binatang TSI, karena 5 tahun lalu, akupun pernah kesana GRATIS bersama keluarga besar Panasonic GOBEL di momen yang sama Family Gathering. Sekilas bercerita mengenai Adikku, adik istimewa ku yang terlahir istimewa dengan celah diantara bibir, gusi dan langit-langit mulutnya. Kalau bisa aku memilih tentunya aku tidak akan pernah menginkan kondisi adikku yang terlahir berbeda dengan yang lain. Tidak bisa menelan dengan baik, sering tersedak, sampai-sampai membiru karena air susu masuk ke dalam paru-paru karena air susu masuk ke dalam paru-parunya. Tapi Aku yakin adikku akan menjadi temanku yang hebat karena cengkraman tangannya kuat luar biasa. Betul saja, sekarang di usianya yang ketiga, adikku tumbuh menjadi adik yang mandiri, pemberani dan hebat, dan tentu dengan sedikit tanda kecil di atas bibirnya.

 

Mamaku adalah Mama yang bekerja, ia bekerja di Panasonic GOBEL sudah hampir 9 tahun lamanya. Setiap hari Mamaku berangkat bekerja pagi hari dan kembali malam hari, semua dijalankannya dengan hati gembira. Mamaku sering berkata, apapun cita-citamu, gantungkanlah setinggi langit, lakukan segala sesuatu dengan hati, niscaya Tuhan memudahkan langkahmu. Di masa mendatang, pastinya kehidupan akan lebih berat, maka lakukan yang terbaik dengan penuh iman. Demikian pula Papaku, Papa yang bekerja dan penyabar yang selalu mendukung kegiatan Mama, Aku dan Adikku.

 

Aku berusia 7 tahun, murid kelas II SD Swasta di daerah Jakarta Timur, Aku suka belajar dan bermain, dan kumulai ceritaku atas pengalamanku sepanjang hari ini di sini. J

 

Wanginya kopi sudah tercium hidungku, kopi yang sengaja dibuat untuk menyegarkan mata Papa Mamaku, namun sering kali kuminta juga. Dengan sigap Papa Mama mengajak kami untuk segera berangkat menuju Taman Safari karena sudah pk.06.00. Kami mengenakan baju kaos berwarna biru, dan masih diberikan sangu uang transport dua ratus ribu Rupiah dan diberikan satu payung untuk melawan rintik hujan. “Mah, jangan lupa ya dibawa untuk tiket masuk, tiket kendaraan berikut konsumsinya. Dicek kembali agar tidak tertinggal,” begitu kata Papaku seraya mengingatkan Mama, dan dijawab Mama hanya dengan anggukan, dan Mama sibuk kembali berkemas.

 

Langit ternyata tidak secerah dugaanku, awan tebal melingkupi sepanjang perjalanan kami menuju TSI. Kubertanya pada Mamaku, “Apakah nanti gajah, kuda, jerapahnya tidak kehujanan ya Mah?” Mamaku tersenyum dan menjawab, “Mereka semua tetap bisa dilihat, tidak usah takut, karena kita akan langsung berjalan kedalam kandang mereka, mungkin mereka kehujanan, tapi tetap mereka bisa berdekatan dengan kita langsung, jadi sekarang kamu tidur dulu saja karena perjalanan masih panjang nak.”

 

Di awal perjalanan kami menuju TSI, sebelum kupejamkan mataku, Papa memberikan komentar kepada Mama atas betapa beruntungnya Mama dapat bekerja di Panasonic GOBEL, karena di saat kondisi yang saat ini semakin sulit, Panasonic GOBEL masih memberikan hak-hak yang terbaik bagi karyawan dan karyawati nya.  Namun masih belum bisa kumengerti terlalu dalam maksud perkataan Papa tersebut, cuma sempat tersebut bahwa Mama melahirkan Aku dan Adik ditanggung kantor, selebihnya sayup-sayup tak terdengar lagi, karena mataku sudah terpejam dan terlelap dalam tidur.

 

Sampai tiba-tiba terdengar suara Mama membuka pintu kendaraan dan terdengar pula suara orang lain di luar kendaraan menanyakan kepada Mama, “Hai Mba, Selamat Pagi, bagaimana perjalanannya? Berapa orang ya konsumsinya?”, Mama ku tersenyum dan menjawab dengan ramah sapaan orang tersebut dengan seraya berkata, “Pagi Pak, Puji Tuhan lancar perjalanannya, kami berempat, mohon dapat diberikan konsumsinya.”. Dan dengan sigap Bapak itu memberikan 4 Box konsumsi untuk kami sekeluarga, dan didalam 1 box konsumsi tersebut ada lontong, pastel, long john cheese, long john chocolate, bika ambon, dan croissant ayam plus minuman pilihan kami. Luar biasa sekali konsumsinya, banyak, enak dan mengenyangkan, sampai bisa membawa oleh-oleh buat keluarga besar karena kami hanya makan 2 box untuk pagi sampai malam hari. Aku makin tidak sabar untuk segera tiba di TSI untuk dapat segera melihat binatang-binatang lucu kesukaanku, seperti gajah, rusa, zebra, dan masih banyak lainnya, hanya sayang belum bisa melihat binatang panda karena masih dikarantina.

 

Tidak lama kemudian sampailah kami di Taman Safari Indonesia. Pertama kami melihat sepanjang perjalanan kami, di kiri dan kanan kami terdapat umbul-umbul Family’s Day Out Panasonic GOBEL, kuberseru kepada Mama “Kebun binatangnya di pesan untuk Panasonic GOBEL semua ya Ma?”, Mamaku tidak menjawab hanya tertawa karena kepolosanku, namun karena aku bertanya lagi dan lagi, akhirnya Mama menjawab, “Kebun Binatang nya dipesan Panasonic GOBEL tapi pengunjung lain masih bisa masuk, Nak… Hanya saja, pengunjungnya mayoritas Karyawan dan Keluarga Panasonic GOBEL, coba perhatikan baju pengunjungnya saja ya, kalau sama berarti itu teman-teman Mama.”

 

Di pintu masuk TSI, kami diinformasikan bahwa karcis kami berlaku terusan, jadi selain bisa melihat beraneka satwa dan fauna di TSI, kami juga bisa bermain diseluruh arena permainan yang ada di TSI, kecuali ada sedikit sekali yang berbayar. “ASSSIIKK! Wowww… memang ada permainan apa saja Mah di TSI?” seruku, seakan mengajak kami semua untuk segera memulai keseruan kami hari ini.

 

Adikku yang lucu baru terbangun dari tidurnya, dan saat itu pula aku langsung mengatakan padanya kalau kami semua sudah di kebun binatang. Senyum manisnya tersibak dari bibirnya yang spesial. Berkat bantuan Panasonic GOBEL, senyum adikku sekarang sama seperti aku, dan anak-anak lainnya. Tidak pernah ada yang bertanya kepada adikku bagaimana kondisi lahirnya. Operasi telah dilakukan dua kali dan keduanya didukung dan dibiayai Panasonic GOBEL “Ayo Adik, mari kita bermain dengan binatang!”

 

Gerbang pertama dibuka dan kami disambut dengan burung-burung flamingo, mereka bersayap dan berparuh panjang, bermata besar seperti kelereng, namun tidak bisa terbang. Saat kami kesana, mereka sedang mandi dan makan bersama-sama, menggemaskan sekali.

 

Aku tidak terlalu tertarik untuk membuka kaca kendaraan terlalu lebar, karena aku memang agak takut dengan binatang, dan itu berbeda dengan adikku. Jadi setiap ada binatang yang mendekat, adikku akan berusaha menggapai binatang-binatang itu, sementara aku akan secepatnya berusaha untuk menjauhi mereka. Bukan karena aku tidak suka mereka, tapi aku takut mau tanganku sampai terkena air liur mereka. JJ

 

Ternyata sewaktu aku dan adik tertidur, Mama Papaku sempat membeli wortel yang cukup banyak untuk memberi makan binatang. Mungkin karena binatang-binantang itu telah terbiasa diberi makan pengunjung, maka mereka tidak sungkan untuk mendekati kaca jendela kendaraan, menunggu pengunjung memberikan makanan kepada mereka.

 

Adik ku dengan cepat mengulurkan wortel-wortel itu pada binatang-binatang yang kami lewati, dari rusa, menjangan, ilama, kuda, unta, dan masih banyak lainnya, seru sekali memang kelihatannya, bahkan tidak jarang, tangan adikku hampir digigit binatang-binatang itu, dan hal itu sangat menggelikan bagiku. Adik pemberaniku bahkan marah kepada Papa jika dia belum puas memberi makan binatang, sementara Papa melaju dengan cepat ke kandang binatang lain. Lucu sekali.

 

Binatang-binatang di TSI sudah jinak sekali dan biasa bercengkrama dengan manusia, maka tidak heran apabila mereka tidak takut saat kendaraan-kendaraan melalui mereka. Sekali waktu ada kerumunan Bison besar berwarna coklat kehitaman dengan tanduk besar berjalan ke arah kendaraan kami, Papa sampai menahan nafas karena takut tanduk-tanduk itu mengenai kendaraan kami, mobil sudah dihentikan menunggu mereka berlalu, satu persatu Bison itu melalui kami, namun Bison terakhir mengenai kendaraan kami cukup keras. Dan Papa pasrah serta berujar, “Semoga kendaraanya tidak penyok ya Dek.”, sambil berkata lirih kepada Adikku.

 

Hewan yang sangat membuat Adikku tertarik adalah rusa, karena dia bisa berlama-lama memberikan banyak wortel kepada kerumunan rusa tanpa takut ditanduk, dan badannya pun kecil. Sepanjang di Kebun Binatang, Adikku yang mulai belajar berhitung, menghitung jumlah monyet, harimau, dan gajah. Jadi selain bermain, kami juga belajar bersama. Menyenangkan sekali.

 

Beberapa gerbang terlewati, tidak terasa kami telah melewati Gerbang terakhir. Adikku masih mau bermain dengan binatang-binatang lagi padahal,  karena sisa wortel kami masih banyak. Tiba kami ke di parkiran disambut dengan hujan gerimis, langsung kami menepikan kendaraaan dan bersiap menuju lokasi acara berkumpulnya karyawan Panasonic GOBEL.

 

Seturunnya kami di sana, kami langsung bercengkrama dengan teman-teman Mama yang semuanya memakai seragam Biru seperti kami, dan mengenakan payung yang sama sambil berusaha berteduh. Mama mengenalkan kami dengan teman-teman Mama dan keluarganya. Seru sekali. Teman Mama ternyata banyak sekali ya, tidak hanya dari PT Panasonic Gobel Indoensia, tapi juga PT Gobel Dharma Nusantara dan PT Gobel International. Sambil menunggu hujan reda, Mama mengajak kami untuk sejenak mampir ke Baby Zoo, kebun binatang kecil TSI untuk melihat-lihat binatang kecil disana dan berfoto dengan kuda little ponny dan zebra untuk dokumentasi kami.

 

Adikku sempat merajuk saat melihat arena permainan yang tersedia di sana, dari bombomcar, kuda berputar, dan berbagai arena permainan lainnya disana. Akhirnya walaupun sudah dihimbau untuk berkumpul di Balairung Safari, Teater, dan sambil menunggu waktu pk.13.00 kami masih menyempatkan diri untuk masuk ke Rumah Hantu, Perahu Air, pesawat terbang mini dan terakhir rumah bola. Seru sekali.

 

Tidak kalah seru disaat kami dengan bergegas masuk ke  dalam Teater, Teater khusus untuk Pimpinan, Karyawan dan keluarga Panasonic GOBEL, langsung kuberseru ke Mamaku, “WOW, Teman Mama BANYAK ya!”, Mamaku Cuma bisa tertawa dan membelai rambutku.

 

Kami disajikan dengan penampilan Akrobatik yang baru pertama kalinya aku tonton secara langsung, walaupun sambil tutup mata karena takut saat harus meliuk-liukan badan seperti itu. Bolak-balik Mamaku bilang kepada kami bahwa pertunjukan yang ditampilkan memerlukan latihan lama dan tidak sembarangan orang bisa melakukan itu hanya yang memilki keahlian khusus saja. “DON’T TRY THIS AT HOME ya Nak!”, demikian seru Mamaku.

 

Dari Akrobat, tiba-tiba ada sepasang badut yang sangat kocak yang sangat menghibur kami, Bos Mama pun turut serta memeriahkan acara tersebut, bangga punya Pimpinan yang mau merakyat bahkan ikut menghibur kami semua. Beliau juga menyemangati karyawannya agar lebih semangat bekerja agar lebih efektif memajukan Perusahaan sehingga Perusahaan Berkembang, karyawan senang, keluarga pun senang karena hasilnya dirasakan bersama.

 

Rangkaian Acara Family’s Day Out Panasonic GOBEL ditutup dengan penampilan Armada, seluruh karyawan dan keluarganya semuanya ikut dalam berjoget dan bernyanyi bersama, tidak ada atasan dan bawahan, semua berbaur dengan baik, tidak terlihat muka-muka sedih dan marah, yang ada hanya senyum dan tawa bahagia semuanya. Semoga masih diberikan kesempatan untuk mengecap acara family gathering Panasonic GOBEL lagi di tahun-tahun yang mendatang.

 

Family Gathering tahun ini merupakan perwujudan isi Perjanjian Kerja Bersama 2016-2018 PT Panasonic Gobel Indonesia, Pasal 36 Mengenai Olahraga, Kesenian dan Rekreasi, Butir Ketiga Dengan mempertimbangkan kondisi Perusahaan pada saat itu, Pengusaha memberikan kesempatan rekreasi secara berombongan sekali setahun bagi Karyawan beserta 1 (satu) orang istri atau suami dan maksimal 3 (tiga) orang banyak.

 

Dengan adanya PKB tersebut, Mama yakin ada hubungan yang terjalin baik antara Perusahaan- Serikat Pekerja Penjualan dan Servis -Federasi Serikat Pekerja Panasonic GOBEL  (SPPS – FSPPG) seperti yang sudah Mama rasakan selama 9 tahun Mama bekerja di PT Panasonic Gobel Indonesia.

 

Masukan dan saran dari Mama untuk mendukung terciptanya hubungan komunikasi 2 arah antara anggota & SPPS. Mungkin SPPS bisa mengadakan suatau media komunikasi sosialisasi (blast email) berupa informasi-informasi yang ter update misalnya mengenai peraturan undang-undang ketenagakerjaan, informasi analisa perkembangan ketenagakerjaan SPPS terhadap perusahaan, maupun perencanaan visi dan misi SPPS setiap periodenya. Setelah disosialisasikan SPPS dapat membuat sebuah Quiz – berhadiah per periode dari informasi-informasi yang telah disosialisasikan dengan tujuan menyegarkan kembali setiap anggotanya.     

Lebih jauh Mama pun bercerita bahwa tahun ini setiap Karyawan-karyawati PT PGI semua tidak hanya mendapatkan kesempatan berekreasi, namun masih mendapatkan doorprize produk-produk elektronik yang beragam dari mulai setrika, rice cooker, mesin cuci,  kulkas sampai TV 50”. Dan rezeki kami untuk tahun ini, Emergency Lamp, namun tahun-tahun lalu kami mendapatkan Kulkas, TV, AC,  kamera pun pernah. Sujut syukur, semua barang di rumah kami merk PANASONIC, selain membeli kami juga mendapatkan doorprize dari kegiatan-kegiatan perusahaan. Bangga menjadi warga Panasonic GOBEL dan menggunakan seluruh barang PANASONIC.

Kami sekeluarga bersyukur dan berterima kasih masih diberikan kesempatan untuk menjadi keluarga besar Panasonic GOBEL tercinta, dimana Mama bisa berkarya dan membaktikan dirinya pada Perusahaan tercinta.

 

Aku berdoa semoga Panasonic GOBEL makin jaya di Negara Indonesia, menjadi Perusahaan yang sesuai visi misinya Berbakti Pada Negara Melalui Industri secara jujur dan adil yang bekerja sama secara selaras untuk perbaikan yang menyesuaikan dengan kemajuan zaman. MAJU TERUS PANASONIC GOBEL!

 

Aku,

Kenneth Berthrand Katoroy

Ditulis bersama Mama Irenne

November 2017

AYAHKU PAHLAWANKU

Penulis : Subarjo

Ayahku seorang pekerja keras, keseharianya ia habiskan untuk bekerja di PT. Walaupun begitu, disela kesibukanya masih menyempatkan diri untuk menghibur keluarganya, bagiku ayah adalah laki – laki yang tangguh dan pahlawan sebenarnya, bukan seperti pahlawan yang ada di tv itu loh,, kalau itu sih rekayasa, tapi ayah ini pahlawan nyata dikehidupan tentunya untuk keluarganya dan juga orang – orang di sekitarnya, ayahku bernama Sadili, ia anak pertama dari 9 bersaudara, waktu aku duduk dibangku sekolah, ayah suka cerita padaku tentang kehidupanya, sejak ia kecil, dewasa hingga menikah dengan ibuku. Pokonya aku cinta bangat sama ayahku setelah mendengar cerita darinya.

            Sejak kecil ayah sudah hidup sederhana, kedua orang tuanya bukan orang kaya, ayahnya adalah pedagang beras keliling dengan sepeda, mamahnya pedagang sayur, waktu ayahku masih sekolah dasar ia sudah membantu ibunya, pagi hari ia mengantar ibunya pergi belanja untuk keperluan berdagang, pukul 7 pagi ia berangkat ke sekolah, setelah ia pulang dari sekolah ia membantu ayahnya memisahkan beras dari gabah agar para pelanggan ayahnya puas dengan kualitas barang dagangannya, sorenya ia mengaji di kampung sebelah, jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya sekitar 10 menit dari rumah. Waktu itu belum ada kendaraan ayah berjalan kaki, hebatkan ayahku ??? hehehehe

            Bukan hanya itu, ayahku juga ikut berjualan loh, dia mengaji sambil membawa gorengan hasil buatan ibunya, setelah ia selesai mengaji dan sebelum pulang ke rumah ia juga belanja keperluan untuk bahan gorengan yang akan dijual untuk hari esok, ayahku ga malu karena kata ayah perbuatan yang baik kenapa harus malu?? Dagang itu kan baik? Halal? Tak merugikan orang lain, jadi kenapa harus malu? Karena rasulullah dulu juga berdagang, itu loh kata ayahku.. keren kan ?! hehehe.. soalnya ayah kan anak pertama, jadi harus bantu ayah dan ibunya mencari uang untuk keperluan keluarganya.

            Ayahku itu pahlawan yang cerdas loh, ayah itu kalau lomba selalu menang, makanya rumahku itu ada lemari khusus untuk piala – piala ayah yang pernah ia raih dari ia kecil hingga saat ini, ayahku jago pidato, berturut – turut saat madrasah ia selalu mendapat juara 1, bukan hanya itu, ayahku juga juara adzan, makanya kalau ayah lagi ada dirumah atau tidak lagi bekerja karena libur ia selalu adzan dan jadi imam di masjid dekat rumahku, keren kan ?! hehehe ayahku gitu loh,,,

            Dari kecil ayah juga sudah rajin menabung, bahkan kalau ayah ingin sesuatu ayah membelinya dari hasil keringatnya sendiri, ia menabung sedikit – demi sedikit lama – lama jadi bukit, heheheh itu sih kata pepatah. Kalau ayah ingin sesuatu selain ayah berusaha sendiri untuk mendapatkanya sebelum itu ayah selalu berdoa dan menuliskan doanya lalu ditempel di dinding, setiap sebelum tidur ayah selalu membacanya, kata ayah kalau mau tercapai apa yang kita inginkan maka tuliskan apa yang di inginkan lalu berdoa supaya allah mengabulkannya setelah itu berusaha agar yang kita inginkan tercapai, gitu kata ayahku...

            Dari kecil ayah ingin sekali pergi ke makkah dan madinah untuk menunaikan ibadah haji bersama orang tuanya, ayahku menuliskan keinginan itu dari kecil dan walaupun agak lama tapi alhamdulillah berhasil loh, saat ayah kerja di PT. Ia kumpulkan uang dan hanya cukup 3 tahun bekerja di PT. Ayah dan kedua orangtunya berhasil menunaikan ibadah haji,, eeeiitts,, bukan hanya kedua orangtuanya, tapi bersama ibuku dan kakek nenek dari ibuku juga loh, ayahku keren kan?! Ayah itu idola bangat deh pokonya, aku pikir setiap ayah yang kerja di PT. Akan sibuk dengan pekerjaanya, ternyata itu tidak berlaku pada ayahku hehehe... gimana dengan ayahmu??

            Ayah itu berjiwa sosialnya tinggi loh, dari dulu kecil sampai saat ia kerja di PT. Tetap saja masih peduli dengan lingkungan sosialnya, waktu kecil saat daerahnya banjir ia juga ikut bantu membersihkan sisa – sisa lumpurnya dan waktu ada bantuan datang ayah ikut juga membagi – bagikanya ke warga korban bencana, hal itu masih berlanjut hingga ia kerja di PT. Sampai saat ini, beberapa waktu lalu, ayah diutus oleh PT. Tempat ia kerja untuk menyerahkan bantuan ke daerah di Indonesia yang terkena bencana banjir bandang, pokonya ayahku itu the best bangat deh,,,, hehehe

            Di tempat tinggalku sekarang ayah jadi ketua RT loh, awalnya sih ayah nolak karena takut tidak amanah, soalnya pekerjaan ayah banyak sekali jika sudah di PT. Takut terganggu, tapi karena motivasi ibu, ayah mau menerimanya. Sebenarnya kenapa ayah dijadikan ketua RT. Karena waktu itu ayah berhasil menyatukan warga di sekitarnya dengan ide berlianya, jadi setiap pekan di adakan makan bersama bergilir, lambat – laun tradisi ini menjadikan setiap warga merasa memiliki, akhirnya seperti keluarga semua deh, semua hidup rukun dan saling membantu saat ada salah satu warga yang membutuhkan bantuan. Keren toh, hehehe

            Ayahku juga sebelumnya berhasil menyatukan keluarganya yang sempat renggang karena kesalah fahaman, sebelum ia kumpulkan keluarganya, ia menghampiri satu – satu anggota keluarganya yang berselisih faham, dan mendegarkan curhatannya, lalu ayah bilang pada semuanya bahwa semuanya ingin minta maaf dan ingin berdamai, padahal ayah bohong hehehe kata ayah bohong dengan niat untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berselisih faham itu dibolehkan dalam agama, wiihhhhh... ayahku keereennn... pekerjaan buruh tak menjadikan ayahku sibuk lalu tak bersosialisasi justru sebaiknya, ayahku buruh yang tangguh dan kuat,,

            Kalau dirumah ayahku itu selalu menyenangkan loh, ia selalu menciumku saat pergi atau pulang kerja, selalu mengucap salam sebelum dan sesudah dari kerja, sabtu dan minggu saat ia libur pasti ayah meluangkan waktunya untuk jalan – jalan bersama kami, ke pantai, kepuncak pokonya kebanyak tempat yang asyik deh,, hehehe,,,, disana kami bersenang – senang bersama melakukan banyak hal yang indah, pokonya kalau ada ayah semua pasti gembira, teman – temanya juga bilang begitu, kata temen - temannya ayah itu di tempat kerja orangnya asyik, murah senyum, kehadiranya selalu dinanti.

            Ayahku tanggung jawab loh orangnya, saat itu ayah tak sengaja buat temenya kecelakaan hingga jarinya hilang hingga ayah mau di berhentikan dari tempat kerjanya, tapi ayah tanggung jawab dan terima resiko terburuknya, ayah membiayai pengobatan dan perawatan temanya, dan bersedia untuk di keluarkan, namun karena ayah punya banyak prestasi dan memiliki pengaruh besar di tempat kerjanya, akhirnya tidak jadi di keluarkan hanya teguran, begitulah jiwa buruh berani bertanggung jawab, dan juga siap dalam menerima atau komitmen dari apa yang dilakukan baik sengaja maupun tak disengaja.

            Kata ayah buruh itu bukan sekedar bekerja, tapi juga butuh ketekunan agar menghasilkan produk yang berkualitas bukan hanya jumlah yang banyak, karena yang terpenting adalah kepercayaan orang yang menggunakan produk atau konsumen lebih mudahnya,  kalau sudah dapat kepercayaan dari orang maka nanti produk – produk kita akan lebih mudah untuk dijual, dan tak kalah penting, buruh itu harus memiliki sikap tanggung jawab dan peduli pada lingkungan itulah buruh zaman now kata ayahku, hehehehe...

            Intinya apapun profesi yang kita jalani, harus kita jalani dengan seamanah mungkin, harus dengan senang hati dan penuh dengan tanggung jawab, jalani semuanya dengan ikhlas karena allah SWT. Begitu.... hehehe makasih yah udah mau baca,,,,,

 

Wassalamualaikum, wr. wb

 

GADIS PENJUAL BUNGA KUBURAN

Lebaran pertama ini aku berziarah ke kuburan Mamakku. Aku pergi bersama istriku, serta kedua adik perempuanku. Aku teringat peristiwa dua tahun yang lalu.
“razak, sekali-kali kau ziarahi kubur mamakmu” suruh ayah kepadaku.
“Nantilah yah, aku tak sempat, kerjaanku banyak” alasanku sambil mengetik pekerjaan kantor yang ku bawa pulang.
Setelah mendengar penjelasanku, ayahpun berlalu kembali ke ruang TV. Disana sudah ada kedua adikku dan ibu tiriku yang sedang menikmati acara TV. Ayah menikah lagi setelah mamak meninggal dunia 1 tahun yang lalu. Sebelum menikah Ayah sangat rajin ke kuburan Mamak. Namun setelah menikah 3 bulan yang lalu, Ayah tidak pernah ziarah ke makam Mamak lagi. Apa mungkin karena sudah menikah lagi dan mengurus istri barunya atau karena menjaga perasaan istri barunya saja. Entahlah! Tapi sudah beberapa hari ini Ayah memintaku untuk berziarah ke makam Mamak. Selama ini aku belu pernah lagi ke makam Mamak, mungkin karena aku terlalu sibuk mengurus pekerjaanku. Aku baru dua kali saja ke makam Mamakku. Pertama saat pemakamannya, kedua kali saat mengurus pembayaran penjaga kuburan yang menambahkan tanah diatas kuburan Mamak yang tanahnya turun.
Suatu hari aku lewat perkuburan dimana Mamakku dikuburkan. Sebenarnya tidak ada niat untuk lewat diarea itu. Berhubung jalan yang seharusnya aku lewati macet sekali dan ditutup karena ada mobil terbakar, sedangkan aku ada perlu dengan klienku.
Tiba-tiba aku ingin singgah ke kuburan ibuku. Aku membelokkan mobilku dan memakirkan didepan penjual bunga kuburan. Keluar dari mobil langsung disambut seorang gadis penjual bunga kuburan. Sejak saat itu, setiap hari aku mampir dan berziarah ke kuburan Mamakku.

Read more...