Sastra

GADIS PENJUAL BUNGA KUBURAN

==============

Suatu hari aku ketemu dengan Ayahku di kuburan. Entah kenapa Ayahku ziarah ke kuburan Mamak hari ini, mungkin dia rindu. Ayah sedang berdoa ditemani seorang wanita tapi bukan Ibu tiriku dan juga bukan adikku tapi aku mengenal baik ciri-ciri wanita itu, sepertinya aku mengenalnya. Seorang gadis cantik dan berjilbab jingga. Aku mendekati mereka.
“Assalamualaikum Ayah. Assalamualaikum Aisyah” ucapku lirih.
“Waalaikumsalam” jawab mereka serentak.
Ayah memandangku dan juga gadis yang kupanggil Aisyah. Aku hanya tersenyum sedikit malu dan salah tingkah.
Razak….razak….mengapa kau tidak bercerita tentang Aisyah?
Ayah berdiri dan memandang Aku dan Aisyah.
“Ayah tidak akan mengenal Aisyah kalau dia tidak mendatangi Ayah” kata Ayah lagi.
Aku pun memandang Aisyah.
“Maaf bang! Sebelumnya Ayahmu membeli bunga denganku tapi aku tidak mengetahui kalau bapak yang membeli bunga itu adalah Ayahmu. Aku baru sadar saat Ayahmu menziarahi kuburan ibumu bang” cerita Aisyah
Begitulah aku mengenang masa-masa bertemu dengan istriku. Terkadang aku merasa durhaka kepada Mamak. Justru aku mengunjungi kuburan Mamak setelah aku tertarik dengan gadis penjual bunga kuburan yang menarik hatiku. Hampir setiap hari aku menziarahi kuburan Mamak hanya ingin membeli bunga dari si gadis penjual bunga kuburan dan mengenalnya lebih dekat. Gadis itu yang akhirnya menjadi pacarku dan sekarang menjadi istriku.

Jakarta, 10 Agustus 2014
Fadly Rahman